Sabtu, 20 September 2014
Senin, 18 Agustus 2014
DIAGNOSA WAN SEMESTER 2 - KEAMANAN JARINGAN
Keamanan
Jaringan
Setelah
membuat sebuah jaringan, kita sebaiknya membuat system keamanan untuk mencegah
kerusakan yang dapat terjadi terhadap jaringan yang kita buat, salah satunya
dengan cara :
- Firewall
Firewall adalah sebuah system proteksi
untuk melaksanakan pengawasan lalu lintas paket data yang menuju atau
meninggalkan sebuah jaringan komputer sehingga paket data yang telah diperiksa
dapat diterima atau ditolak atau bahkan dimodifikasi terlebih dahulu sebelum
memasuki atau meninggalkan jaringan tersebut.
- Intrusion Detection System
Sistem ini akan mendeteksi pola atau
perilaku paket data yang masuk ke jaringan untuk beberapa waktu sehingga dapat
dikenali apakah paket data tersebut merupakan kegiatan dari pihak yang tidak
berhak atau bukan.
- Network Scanner
Scanner adalah sebuah program yang
secara otomatis akan mendeteksi kelemahan kelemahan (security weaknesses) sebuah
komputer di jaringan local (local host) maupun komputer di jaringan dengan
lokasi lain (remote host).
- Packet Sniffing
Program ini berfungsi sebagai alat
untuk memonitor jaringan komputer. Alat ini dapat diperasikan hampir pada seluruh
tipe protokol seperti Ethernet, TCP/IP, IPX, dan lain-lain.
Source:
DIAGNOSA WAN SEMESTER 2 - NETWORK MONITORING
Network
Monitoring
Manajemen
jaringan adalah kemampuan untuk memonitor, mengontrol, dan merencanakan suatu
jaringan komputer dan komponen sistem. Monitoring jaringan merupakan
bagian dari manajemen jaringan. Hal yang paling mendasar dalam konsep manajemen
jaringan adalah tentang adanya manajer atau perangkat yang memanajemen dan agen
atau perangkat yang dimanajemen.
Dalam
implementasinya, ada berbagai macam arsitektur manajemen jaringan yang
didasarkan pada tipe dan ukuran masing-masing. Ada dua arsitektur yang dapat
digunakan yaitu manajemen terpusat (centralized management) dan
manajemen menyebar (distributed management)
Source:
DIAGNOSA WAN SEMESTER 2 - VPN
VPN
Virtual
Private Network (VPN) adalah teknik pengamanan jaringan yang bekerja dengan cara
membuat suatu tunnel sehingga
jaringan yang terpercaya dapat terhubung dengan jaringan yang ada di luar
melalui internet.
Jenis
implementasi VPN
Dilihat dari jenis implementasi VPN
yang ada, dalam penelitian ini termasuk dalam kategori Site-to-site VPN. Site-to-site
VPN merupakan jenis implementasi VPN yang menghubungkan antara dua tempat atau
lebih yang letaknya berjauhan, seperti halnya menghubungkan kantor pusat dengan
kantor cabang, baik kantor yang dimiliki perusahaan itu sendiri maupun kantor
perusahaan mitra kerjanya. VPN yang digunakan untuk menghubungkan kantor pusat
dengan kantor cabang suatu perusahaan disebut intranet site-to-site VPN.
Protokol
yang digunakan dalam VPN
menggunakan protocol IP Security.
IPsec yang diimplementasikan kedalam site-to-site
VPN menggunakan mekanisme network-tonetwork,
sehingga perlu dilakukan konfigurasi IPsec pada masing-masing gateway. Untuk dapat terkoneksi,
masing-masing gateway melakukan
sinkronisasi,
Bentuk-bentuk
Serangan terhadap Jaringan VPN
Kegiatan dan hal-hal yang membahayakan
keamanan jaringan VPN antara lain adalah hal-hal sebagai berikut.
- Probe
Probe atau yang
biasa disebut probing adalah
suatu usaha untuk mengakses sistem
atau mendapatkan informasi tentang
sistem.
- Scan
Scan adalah probing dalam jumlah besar
menggunakan suatu tool. Scan biasanya merupakan awal dari
serangan langsung terhadap system.
- Packet Sniffer
Packet
sniffer adalah sebuah program yang menangkap data dari paket yang lewat di
jaringan. Data tersebut bisa termasuk user
name, password, dan
informasi-informasi penting lainnya yang lewat di jaringan dalam bentuk text. Paket yang dapat ditangkap
tidak hanya satu paket tapi bisa berjumlah ratusan bahkan ribuan, yang berarti
pelaku mendapatkan ribuan user name dan
password.
- Denial of Services( DoS)
Denial of
Services adalah sebuah metode serangan yang bertujuan untuk menghabiskan
sumber daya sebuah peralatan jaringan komputer sehingga layanan jaringan
komputer menjadi terganggu. Salah satu bentuk serangan ini adalah 'Ping Flood Attack', yang
mengandalkan kelemahan dalam system 'three-way-handshake'.
DIAGNOSA WAN SEMESTER 2 - IPv6
IPv6
IPv6 atau Internet Protocol version 6
adalah protokol Internet terbaru yang merupakan pengembangan lebih lanjut
dariprotokol yang dipakai saat ini, IPv4 (Internet Protocol version 4).
Pengalamatan IPv6 menggunakan 128-bit alamat yang jauh lebih banyak
dibandingkan dengan pengalamatan 32-bit milik IPv4. Dengan kapasitas alamat IP
yang sangat besar pada IPv6, setiap perangkat yang dapat terhubung ke Internet
dapat memiliki alamat IP yang tetap. Sehingga, cepat atau lambat setiap
perangkat elektronik yang ada dapat terhubung dengan Internet melalui alamat IP
yang unik.
Protokol IPv6 ini memiliki beberapa fitur baru yang merupakan
perbaikan dari IPv4,diantaranya :
- Memiliki format header baru
Header pada IPv6 memiliki format baru yang didesain untuk menjaga
agar overhead header tetap minimum, dengan menghilangkan field-field yang tidak
diperlukan serta beberapa field opsional yang ditempatkan setelah header IPv6.
Header IPv6 sendiri besarnya adalah dua kali dari besar header dari IPv4.
- Range alamat yang sangat besar
IPv6 memiliki 128-bit atau 16-byte untuk masing-masing alamat IP
source dan destination.
- Konfigurasi pengalamatan secara stateless dan statefull
IPv6 mendukung konfigurasi pengalamatan secara statefull, seperti
konfigurasi alamat menggunakan server DHCP, atau secara stateless yang tanpa
menggunakan server DHCP.
- Built-in security
- Protokol baru untuk interaksi node
Pada IPv6 terdapat Protokol Neighbor Discovery yang menggantikan
Address Resolution Protokol.
- Ekstensibilitas
IPv6 dapat dengan mudah ditambahkan fitur baru dengan menambahkan
header ekstensi setelah header IPv6. Ukuran dari header ekstensi IPv6 ini hanya
terbatasi oleh ukuran dari paket IPv6 itu sendiri.
DIAGNOSA WAN SEMESTER 2 - DYNAMIC ROUTING
Dynamic
Routing
Dinamic routing adalah
proses pengisian data routing pada
routing table secara otomatis.
Apabila jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang
sama maka perlu digunakan dynamic routing.
Protokol routing mengatur router-router sehingga dapat berkomunikasi satu dengan yang lain dan
memberikan informasi routing yang
dapat mengubah isi forwarding table, tergantung keadaan jaringannya. Sehingga router-router dapat mengetahui keadaan jaringan yang terakhir dan mampu
meneruskan datagram.
Untuk mempresentasikan arah Dynamic routing mengunakan nilai metric yang didalamnya terdapat
parameter-parameter untuk menghasilkan nilai metric tersebut. Parameter yang
dapat digunakan untuk menghasilkan sebuah nilai metric adalah:
a. Hop count, berdasarkan
banyaknya router yang dilewati.
b. Ticks, berdasarkan waktu
yang diperlukan.
c. Cost, berdasarkan perbandingan sebuah nilai standar
dengan bandwith yang tersedia.
Keuntungan Routing dinamis yaitu :
a. Lebih mudah dikelola, karena
tidak banyak memerlukan konfigurasi manual.
b. Dapat beradaptasi terhadap
perubahan kondisi internetwork.
c. Route ditentukan berdasarkan informasi dari router lain.
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - FRAME RELAY
Frame Relay
Frame Relay, sesuai
dengan namanya adalah teknologi yang mengandalkan frame-frame yang
di’relay’ (diteruskan) untuk
mengantarkan data. Frame merupakan sebuah paket data. Paket-paket data tersebut
kemudian diberi tambahan kepala (header)
untuk menetapkan alamat (address)
tujuan, dan kemudian
ditransmisikan melalui jaringan.
Pengiriman paket-paket data tersebut berlangsung secara independen
satu dengan yang lain, dan masing-masing dapat melalui rute yang berbedauntuk
mencapai tujuannya meskipun berasal dari data sumber yang sama.Sehingga, dalam
sebuah jaringan akan ada banyak jenis paket yang harus ditransmisikan dari
pengirim ke penerima, prinsip ini dikenal sebagai Packet Switching.
Frame relay merupakan bentuk sederhana dari packet switching,
memiliki prinsip kerja dimana frame-frame data secara berurutan dialirkan
ketujuannya masing-masing berdasarkan informasi yang terdapat pada bagian awal
( header ) frame. Frame relay juga dirancang untuk mengurangi pemrosesan pada
setiap node dengan cara meminimalisasi prosedur yang digunakan. Hal ini
dilakukan untuk mengefisienkan waktu yang digunakan untuk penanganan kesalahan
(error ) dan pengendalian arus data ( flow control).
Pada Frame Relay berlaku
mekanisme bandwidth-on-demand yang
sangat menunjang efektifitas dari Frame
Relay.
Frame Relay mengirimkan
paket dalam kumpulan frame-frame yang berisi data dan header. Informasi header yang terdapat pada setiap frame
digunakan untuk menentukan routing dari
data tersebut ke tujuan yang diinginkan. Adanya informasi header ini juga mengakibatkan setiap
stasiun akhir dapat berkomunikasi dengan tujuan yang berbeda-beda melalui
sebuah jalur akses tunggal yang terhubung ke jaringan.
Cara Kerja Frame Relay
Frame Relay menggunakan format frame High-Level Data Link Control (HDLC) dengan panjang sampai dengan
4 kilo bytes. Setiap frame diawali
dan diakhiri dengan flag character (karakter
penanda). Paket-paket kemudian disalurkan melalui satu atau lebih Virtual Circuit (sirkuit virtual)
yang lebih dikenal dengan Data Link
Connection Identifiers (DLCI). Sirkuit virtual menyediakan jalur
komunikasi dua arah dari satu
DTE ke DTE yang lain dan menggunakan alamat yang unik disebut DLCI.
Kemampuan ini dapat mengurangi kompleksitas jaringan dan
penggunaan peralatan untuk menghubungkan sejumlah DTE. Sirkuit virtual pada
Frame Relay terbagi dalam dua kategori yaitu Permanent Virtual Circuit
(PVC) yang didefinisikan sebagai rangkaian atau jalur logik titik
ke titik yang terbentuk secara permanen
dan Switched Virtual Circuit (SVC)
yang didefinisikan sebagai sambungan logik antara dua titik pada jaringan yang
dapat dibentuk dan diputuskan untuk setiap transmisi.
Pada Frame Relay tidak
ada flow control. Tanpa proses flow control, maka jaringan dengan
mudah akan membuang frame-frame yang tidak dapat dikirimkannya. Akan tetapi,
protokol Frame Relay menyertakan
aturan untuk mengendalikan dan meminimalisasi kehilangan frame (frame loss) pada level pengguna.
Unjuk Kerja Jaringan Frame Relay
Parameter-parameter yang dapat mempengaruhi penilaian terhadap
unjuk kerja dalam jaringan Frame Relay adalah:
a. Access Rate (AR)
Access Rate (AR) atau bisa disebut juga dengan
kecepatan akses merupakan kecepatan maksimum data yang dikirim untuk dapat
masuk jaringan Frame Relay. Kecepatan akses ini berhubungan erat dengan
jaringan fisik yang digunakan. Kecepatan akses dapat pula
dipandang sebagai batasan fisik dukungan kecepatan akses maksimum yang dapat
diberikan.
b. Commited Information Rate (CIR)
CIR didefinisikan sebagai kecepatan throughput dalam satuan
bit persecond (bps) yang dijamin oleh jaringan untuk dilewatkan pada
kondisi normal. Besar nilai CIR selalu lebih kecil atau sama dengan
besar
kecepatan akses.
c. Bursting (Lonjakan
Data)
Dalam hampir semua komunikasi data terjadi bursting (lonjakan
data) pada saat transmisi. Salah satu keunggulan jaringan Frame Relay adalah
kemampuannya untuk menangani transmisi bursting tersebut jika bandwidth
yang tersedia memungkinkan untuk meneruskan transmisi.
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - PPP
PPP ( Point-to-Point Protocol)
Point-to-Point Protocol merupakan salah satu teknologi jaringan
yang dianggap paling penting. Meskipun pada awalnya hanya dirancang untuk
mengenkapsulasikan IP agar dapat dipakai pada jalur – jalur serial
point-to-point, PPP ini telah dikembangkan untuk mendukung berbagai protocol
lainnya. PPP juga menyediakan beragam fitur dan opsi pilihan, termasuk di
antaranya adalah manajemen pengalamatan IP, authentication, multiplexing, dan
beragam fitur pengelolaan jaringan. Teknologi ini umumnya digunakan pada modem
PC, untuk menyambungkannya secara dial-up ke Internet atau ke jaringan internal
sebuah perusahaan.
PPP merupakan sekumpulan protocol yang terdiri dari High-level
Data Link Control ( HDLC ), Link Control Protocol ( LCP ), dan Network Control
Protocol ( NCP ). HDLC digunakan untuk mengenkapsulasikan datagram-datagram,
sehingga dapat ditransmisikan via jalur-jalur serial. LCP digunakan untuk
membangun, mengkonfigurasikan, dan menguji koneksi jalur data. NCP dipakai
untuk mengelola, yaitu mengaktifkan dan mengkonfigurasikan, protocol-protocol
dari lapisan jaringan. Point-to-Point Protocol beroperasi pada segmen jaringan
antara DTE ( Data Terminal Equipment ) dan DCE ( Data Communication Equipment
). Jalur-jalur yang menghubungkan kedua perangkat ini harus bersifat duplex.
PPP juga dapat menyediakan proteksi password menggunakan PAP
(Password Authentication Protocol ) dan yang lebih baik lagi seperti CHAP (
Challenge Handshake Authentication Protocol ).
Buku Schaum's:
Computer Networking
Buku Pengantar
Jaringan Komputer
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - LAYER 3 SWITCHING
Layer 3
Switching
Layer 3
Switching memungkinkan komunikasi antar VLAN atau antar segmen jaringan
dengan kecepatan tinggi mendekati kecepatan komunikasi kabel
Ethernet pada umumnya. Biasanya menggunakan manageable switch.
Manageable switch mempunyai penambahan fungsi yaitu bisa melakukan routing
sehingga untuk menghubungkan antar vlan tidak diperlukan router kembali. Untuk jaringan multi-segmen pemakaian
Layer 3 Switching akan sangat meningkatkan kinerja komunikasi antar segmen
dengan latensi minimal. Penggunaan
layer 3 Switching akan dapat membantu menyelesaikan masalah latensi komunikasi
antar segmen dan juga batasan kinerja yang biasa digunakan oleh paket filtering
yang menggunakan routing berdasarkan processor. Layer 3
Switching adalah technology LAN yang digunakan untuk meningkatkan kinerja
routing antar VLAN dan tercapainya kecepatan forwarding transparent.
Kebutuhan minimum layer 3 switching
- Untuk mencapai suatu kinerja
tinggi dalam komunikasi antar LAN atau antar VLAN maka solusi pemakaian
Layer 3 Swicthing sangat diperlukan.
- Suatu Layer 3 Swicting setidaknya
menawarkan rate forwarding pada atau diatas 5 sampai 10 Mpps (Million
packets per second) atau bisa diskalakan pada kecepatan yang didapatkan
pada jaringan LAN 100/1000
Mbps.
- Suatu layer 3 Switching
setidaknya juga memberikan access-list extended (paket filtering) Checking
In Silicon untuk meningkatkan kecepatan forwarding paket dan mengurangi
latensi jaringan.
Source:
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - WAN ENCAPSULATION
Encapsulasi adalah proses pemberian informasi (berupa header
atau trailer) data menjadi paket data (PDU = Protocol Data Unit), proses ini
terjadi pada proses pengiriman paket datamenuju host tujuan.Proses dari
Encapsulation terbagi kedalam lima proses, yaitu :
·
Tahap 1
Proses perubahan format aplikasi
menjadi PDU.
·
Tahap 2
Proses pengumpulan data yang akan
dikirimkan menjadi paket data.
·
Tahap 3
Pemberian informasi
alamat logical (IP Address) asal dan tujuan paket data.
·
Tahap 4
Pemberian informasi
(berupa header atau trailer) kepada paket data mengenai perangkat jaringan yang
terhubung langsung (directly-connected).
·
Tahap 5
Proses konversi paket digital menjadi
sinyal-sinyal listrik.
Proses Enkapsulasi
terjadi dari tahap 1 menuju tahap 5, sedangkan proses kebalikannya yang dikenal
dengan istilah Dekaptulasi terjadi pada host tujuan, dari tahap 5 menuju tahap
1, Dekaptulasi merupakan proses terjadinya pelepasan informasi paket data
(header atau trailer) menjadi data. Proses enkapsulasi terjadi pada proses pengiriman
paket data atau proses request pada handshake. Sedangkan proses dekapsulasi
terjadi pada proses penerimaan paket data dan dikenal dengan istilah respon.
Source:
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - STP
STP ( Spanning Tree Protocol )
Untuk mencegah terjadinya bridging loop, komisi
standard 802.1d mendifinisikan standard yang disebut Spanning Tree Algoritm
(STA), atau Spanning Tree Protocol (STP). Dengan protocol ini, setiap jalur
memiliki satu bridge dan di beri tugas sebagai designated bridge. Hanya
designated bridge yang bisa meneruskan paket. Sementara redundansi bridge
bertindak sebagai backup.
Keuntungan
- Meminimalisir
bridging loops
- Recovery
secara otomatis jika mendapat suatu perubahan topologi atau kegagalan
bridge
- Mengidentifikasikan
jalur yang optimal antara dua perangkat jaringan
Macam-macam bridge yang terdapat pada STP :
Root bridge
Root bridge merupakan master bridge atau controlling bridge. Root
bridge secara periodik mem-broadcast pesan konfigurasi. Pesan ini digunakan
untuk memilih rute dan me-re-konfigure fungsi-fungsi dari bridge-bridge lainnya
bila perlu, dan hanya ada satu root bridge per jaringan. Root bridge biasanya
dipilih oleh administrator.
Designated bridge
Designated bridge adalah bridge-bridge lain yang berpartisipasi
dalam meneruskan paket melalui jaringan. Mereka dipilih secara otomatis dengan
cara saling tukar paket konfigurasi bridge. Untuk mencegah terjadinya bridging
loop, hanya ada satu designated bridge per segment jaringan.
Backup bridge
Semua bridge redundansi dianggap sebagai backup
bridge. Backup bridge mendengar traffic jaringan dan membangun database bridge.
Akan tetapi mereka tidak meneruskan paket. Backup bridge ini akan mengambil
alih fungsi jika ada root bridge atau designated bridge tidak berfungsi.
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - VTP
VTP
VLAN Trunking Protocol (VTP)
merupakan fitur layer 2 yang terdapat pada jajaran Switch Catalyst. Tujuan
utama VTP adalah untuk menyediakan fasilitas sehingga switch dapat diatur
sebagai sebagai suatu grup. Sebagai contoh, jika VTP dijalankan pada semua
switch, pembuatan VLAN baru pada satu switch akan menyebabkan VLAN tersebut
tersedia pada semua switch yang terdapat VTP management domain yang sama. VTP
management domain merupakan sekelompok switch yang berbagi informasi VTP. Suatu switch hanya dapat menjadi bagian dari
satu VTP management domain, dan secara default tidak menjadi bagian dari VTP
management domain manapun.
Saat membuat switch menjadi bagian dari suatu VTP management
domain, setiap switch harus dikonfigurasi dalam satu dari tiga mode VTP yang
dapat digunakan. Mode VTP yang digunakan pada switch akan menentukan bagaimana
switch berinteraksi dengan switch VTP lainnya dalam management domain tersebut.
Mode VTP yang dapat digunakan pada switch
adalah mode server, mode client, dan mode transparent.
Mode Server
VTP server mempunyai kontrol penuh atas pembuatan VLAN atau
pengubahan domain mereka. Semua informasi VTP disebarkan ke switch lainnya yang
terdapat dalam domain tersebut, sementara semua informasi VTP yang diterima
disinkronisasikan dengan switch lain.
Mode Client
VTP client tidak memperbolehkan administrator untuk membuat,
mengubah, atau menghapus VLAN manapun. Pada waktu menggunakan mode client
mereka mendengarkan penyebaran VTP dari switch yang lain dan kemudian
memodifkasi konfigurasi VLAN mereka. Oleh karena itu, ini merupakan mode
mendengar yang pasif. Informasi VTP yang diterima diteruskan ke switch
tetangganya dalam domain tersebut.
Mode Transparent
Switch dalam mode transparent tidak berpartisipasi dalam VTP. Pada
waktu dalam mode transparent, switch tidak menyebarkan konfigurasi VLAN-nya
sendiri, dan switch tidak mensinkronisasi database VLAN-nya dengan
advertisement yang diterima. Pada waktu VLAN ditambah, dihapus, atau diubah
pada switch yang berjalan dalam mode transparent, perubahan tersebut hanya
bersifat lokal ke switch itu sendiri, dan tidak disebarkan ke swith lainnya
dalam domain tersebut.
Source:
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - VLAN
VLAN
·
Pengertian
VLAN adalah
Virtual LAN yaitu sebuah jaringan LAN yang secara virtual dibuat di sebuah
switch. Pada switch standard (un-manage-able switch ) biasanya akan meneruskan
traffic dari satu port ke semua port yang lain ketika ada traffic dengan domain
broadcast yang sama melewati port tersebut.
Untuk switch yang khusus (manage-able switch), mereka mampu untuk membuat beberapa LAN yang berbeda dengan id yang berbeda di tiap portnya, dan hanya akan meneruskan traffic ke port-port yang memiliki id yang sama.
Switch type khusus (manage-able switch) ini sebenarnya sudah secara otomatis memasang VLAN di dalamnya (vlan id = 1) yang beranggotakan semua port yang ada.
Untuk switch yang khusus (manage-able switch), mereka mampu untuk membuat beberapa LAN yang berbeda dengan id yang berbeda di tiap portnya, dan hanya akan meneruskan traffic ke port-port yang memiliki id yang sama.
Switch type khusus (manage-able switch) ini sebenarnya sudah secara otomatis memasang VLAN di dalamnya (vlan id = 1) yang beranggotakan semua port yang ada.
·
Mengapa
VLAN perlu diimplementasikan
Ketika sebuah
network menjadi semakin besar skalanya, dan membuat traffic broadcast menjadi
beban di seluruh network. Beban terlalu besar yang disebabkan oleh traffic
broadcast ini bisa menyebabkan network menjadi down dan tidak se-responsif
sebelumnya.
·
Mengapa Menggunakan VLAN ?
1.
Kontrol Terhadap
Broadcast
Administrator dapat mengkontrol broadcast pada
sebuah network, agar traffic broadcast tidak menjadi beban di seluruh network.
2.
Keamanan
Administrator akan dapat memiliki kontrol ternhadap
setiap port dan user dengan cara membuat VLAN dan menciptakan banyak kelompok
broadcast, dengan demikian user tidak akan bisa lagi dengan leluasa untuk
menghubungkan work station mereka ke sembarang port pada swich dan memperoleh
akses ke sumber daya network.
3.
Fleksibilitas dan
Skalabilitas
·
Kapan VLAN perlu diimplementasikan ?
- Memiliki lebih dari 200 node
perangkat di dalam jaringan.
- Banyak terjadi traffic broadcast
di dalam jaringan.
- Anda ingin membagi beberapa user
menjadi group-group tersendiri untuk meningkatkan keamanan.
- Mengurangi traffic broadcast yang
banyak disebabkan oleh serangan virus dan program pengganggu lain yang
akan memporak porandakan jaringan.
BUKU CCNA
Cicso Certified Networking Associate
DIAGNOSA WAN SEMESTER 1 - HIRARKI WAN DAN PERANGKAT PEMBENTUK WAN
HIERARKI WAN
1.
Core Layer
·
Pengenalan
Core layer digunakan untuk memberikan struktur transportasi yang optimal
dan dapat diandalkan dalam meneruskan traffic pada kecepatan yang sangat
tinggi.
·
Fungsi
Ø
Menjadi backbone jaringan yang bertanggung jawab
pada traffic jaringan.
Ø
Mengatur kapasitas traffic dan pengiriman pada
traffic dengan cepat dan handal.
·
Tugas
Ø
Mengatur traffic secara keseluruhan dengan baik,
cepat, dan handal.
Ø
Melakukan desain jaringan dengan menggunakan
latency yang rendah.
2.
Distribution Layer
·
Pengenalan
Distribution layer merupakan pemisah antara Core layer dengan Access
layer, dan bertujuan untuk memberikan batasan dalam akses dan filter untuk
menuju ke jaringan inti.
·
Fungsi
Ø
Mengontrol traffic jaringan dengan cara
melakukan pengawasan pada broadcast domain dan mengelompokkan lalu lintas pada
switch agar dapat ke subnetwork terpisah.
·
Tugas
Ø
Menyediakan layanan routing, filtering, dan
menentukan cara terbaik untuk menangani sebuah permintaan layanan dalam
jaringan.
3.
Access Layer
·
Pengenalan
Access layer digunakan untuk menyuplai trafik ke jaringan dan melakukan
network entry control. Para user mengakses jaringan melalui layer ini. Access
layer berfungsi sebagai gerbang atau pintu masuk menuju sebuah jaringan.
·
Fungsi
Ø
Menyediakan sarana bagi user untuk mengakses
jaringan WAN dan juga untuk mengizinkan user menggunakan perangkat yang sudah
diizinkan oleh server.
·
Tugas
Ø
Meneruskan access control dan policy yang
diterima dari Distribution layer.
Ø
Mengendalikan akses user dengan workgroup, untuk
masuk ke sumber daya internetwork.
4.
PERANGKAT PEMBENTUK WAN
·
DCE ( Data Circuit Equipment )
Merupakan perangkat yang berfungsi untuk menkonversi sinyal. Device yang
termasuk DCE antara lain : Hub, Switch, dan Modem.
·
DTE ( Data Terminal Equipment )
Merupakan perangkat yang melewatkan data dari CPE menuju DCE untuk
dikonversikan. Berfungsi untuk mengkonversikan sinyal yang diterima agar bisa
sampai pada user. Device yang termasuk DTE antara lain : Terminal ( PC, Laptop
).
·
CO ( Central Office )
Merupakan perangkat yang mengendalikan dan mengatur perangkat – perangkat
yang lain agar dapat bekerja dengan baik dan benar, dan merupakan pusat
penyedia layanan.
Bagian yang termasuk CO antara lain : ISP
·
CPE ( Customer Premises Equipment )
Merupakan perangkat jaringan yang dipasang pada user dan dikoneksikan ke
perangkat jaringan yang ada di ISP. Device yang termasuk CPE antara lain :
Telepon, dan ADSL Modem.
Source :
BUKU CISCO CCNP DAN JARINGAN KOMPUTER Karangan Iwan Sofana
Langganan:
Komentar (Atom)